Filled Under: , ,

KH. MIMBAR DAN PONDOK PESANTREN AL-MIMBAR SAMBONGDUKUH JOMBANG

 

RIWAYAT KH. MIMBAR

1. Nasab dan Kelahiran

KH. Mimbar. Beliau lahir di Jombang pada awal abad 18, Perkiraan tepatnya di mungkinkan ditahun 1814 ( tidak ada data yang menunjukan kepastian tahun kelahiran Beliau )  di Desa Sambong. Beliau merupakan Putra dari KH. Hasan Rifa'i dari Pesantren Sewulan Pagotan Madiun  dengan Tiga Bersaudara  , Di lain Cerita dan data yang ada Beliau KH Mimbar lahir sekitar tahun 1864. Nama aslinya Muhammad Manshur anak dari KH Hasan Rifai dari Pesantren Sewulan Pagotan Madiun. Dijuluki Kiai Mimbar kemungkinan karena pandai berceramah di atas mimbar sehingga menarik perhatian jamaah.

Menurut data yang masih tersisa, KH Mimbar bukanlah lahir dari keturunan orang biasa. Jika diruntut hingga tinggi, KH Mimbar diklaim salah satu dari garis keturunan Nabi Muhammad SAW dari putrinya Fatimah Al-Zahra dan Ali bin Abi Thalib, kemudian Husain bin Ali bin Abi Thalib , 

K.H. Mimbar merupakan pendiri pondok pesantren Al-Mimbar di desa Sambongdukuh Jombang yang merupakan salah satu pondok pesantren tertua di Jombang  , 


2. Sanat Ilmu dan Pendidikan 

KH. Mimbar Putra dari KH. Hasan Rifa'i tersebut dilahirkan dan dibesarkan dengan ilmu keagamaan dan kepesantrenan. Lebih cenderung dalam hal Al-Qur’an dan beberapa kitab fiqih ataupun nahwu shorof , 

Saat berusia kurang lebih 15 tahun sering sekali Beliau “sowan” atau silaturahmi ke Kyai-Kyai di Jawa Timur. Beberapa di antaranya adalah KH. Muhammad Nur (Pondok Langitan Tuban), KH. Abdul Lathif (Ayah Syaikh Kholil Bangkalan, Madura), KH. Abdus Salam (Gedang, Jombang), dan masih banyak lainnya.  Menginjak usia dewasa, Mbah Mimbar diutus Ayah Beliau untuk pergi haji. Dengan modal Bismillah dan tekad kuat Beliau berangkat dengan cara menumpang kapal milik Saudagar Hindi-Belanda yang saat itu sedang menjajah Nusantara. Atas izin Allah Beliau sampai di Arab dan dapat menunaikan Ibadah Haji.

Di Makkah Beliau bertemu salah satu Syaikh yang berasal dari Indonesia, yakni ”Syaikh Nawawi Al-Bantani”. Melihat kesempatan emas itu Mbah Mimbar berniat untuk menetap sementara di Makkah, sembari belajar pada Syaikh Nawawi. Syaikh Nawawi memiliki beberapa murid yang berasal dari Indonesia saat itu, salah satunya adalah Mbah Kholil Bangkalan. Karena itulah Mbah Mimbar dan Mbah Kholil menjadi sahabat di Makkah. Mereka belajar bersama pada Syaikh Nawawi Al-bantani.


3. Da'wah  dan Pendirian Pondok Pesantren Sambong (Al-Mimbar )

Da'wah KH Mimbar dimulai setelah kepulangan Beliau dari Makkah setelah sekitar setahun  setengah Mbah Mimbar belajar di Makkah dengan melanjutkan perjuangan Da'wah Ayahnya yang lebih dulu membangun Masjid yang kemudian dinamakan masjid Al-Mimbar  , Masjid tersebut adalah masjid pertama di desa Sambongdukuh, Jombang. Ayah beliau  juga merupakan salah satu orang yang pertama kali menyebarkan agama islam di desanya , 

KH. Mimbar melanjutkan perjuangan Ayah Beliau dengan merenovasi masjid dan membangun surau/padepokan kecil. Beliau mengajak beberapa warga Sambong untuk membantu pembangunan, dan akhirnya berdirilah Pondok Sambong. Di Pondok tersebut Mbah Mimbar memulai jalan dakwah. Diawali dengan mengajak warga Sambong dan sekitarnya untuk belajar baca tulis arab, hingga mengaji Al-Qur'an. Bahkan Masjid Sambong  menjadi pusat keagamaan di Jombang pada saat itu.

Media dan tempat belajar mengajar pengetahuan Islam yang berupa Pondok Pesantren yang didirikan KH. Mimbar di Dukuh sambong tersebut kemudian bernama Pondok sambong dan kini bernama Pondok Pesantren Al-Mimbar.

 Pondok pesantren Al-Mimbar ini banyak melahirkan tokoh dan tempat kyai terkenal yang pernah berguru pada mbah Mimbar, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, yaitu pendiri Nahdlatul Ulama (sebuah organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia), selain berguru ilmu agama beliau juga berguru ilmu kanuragan pada mbah Mimbar, K.H. Tamim (Ayah K.H. Romli, Rejoso), K.H. Ma’ruf (Kedunglo, Kediri), dan K.H. Bakar (Bandarkidul, Kediri). 


4. Karomah , Perjuangan dan Kemaslahatan untuk Negeri dan Ummat

KH Mimbar yang dikenal 'Alim , Zuhud dan Dermawan tersebut juga merupakan seorang yang mempunyai banyak karomah yang diberikan Alloh SWT kepada Beliau , Beliau mempunyai karomah dengan ucapan Beliau yang mudah menjadi kenyataan. Tak heran jika hampir semua santrinya saat itu banyak yang berhasil. Sebab santri dulu lebih penurut, ditunjang ucapan dan doa KH Mimbar yang mudah menjadi kenyataan.

Ilmu KH Mimbar yang paling terkenal ilmu suwuk, sehingga ia tak perlu menggunakan alat untuk berperang, tapi beliau bisa menumbangkan banyak musuh hanya dengan Do'a-do'a . Beliau terkenal akan ilmu kesaktian kanuragan atau semacam ilmu bela diri. Pantas saja, didukung juga dengan bentuk fisik beliau yang tinggi dan besar. Konon, karena hal itu juga membuat para penjajah Jepang tidak berani mendekati beliau dan daerah sekitar pesantrennya. Karena ketakutan para penjajah terhadap kesaktian mbah Mimbar menjadikan pondok pesantren Al-Mimbar aman dan terlindungi dari mereka. Beliau mengajarkan ilmu kanuragan tersebut kepada santri-santrinya agar santrinya bisa menjaga diri dari segala macam bahaya. 

KH. Mimbar bukan hanya menjadi pejuang agama dengan menggandeng siapapun yang bisa diajak untuk memperkokoh Islam,. Beliau juga pejuang bangsa yang turut melawan Belanda. Beliau berjuang dengan doa dan ilmu-ilmu lain yang tidak banyak dikuasai orang lain , Beliau bisa membunuh musuh tanpa menampakkan wijudnya . 

Selain itu, beliau juga dari beberapa sumber juga menyebutkan, bahwa beliau juga ahli di bidang pengobatan. Sifat beliau yang menonjol  adalah sifat penyabarnya. Beliau tidak pernah menggunakan jalan kekerasan dalam mendidik para santrinya

Hal lain yang pernah diceritakan karomah beliau yaitu Firasat Beliau kepada salah satu santrinya yang bernama  K.H. Tamim (ayah K.H. Romli, Rejoso). Ada cerita berkesan antara mbah Mimbar dengan K.H. Tamim. Pada suatu saat mbah Mimbar menjumpai beliau yang seketika itu sedang sedih. “ Tamim, ada apa? Kenapa kamu menangis?” Tanya mbah Mimbar. “ Saya gelisah kyai, saya bingung bagaimana nanti dengan nasib anak cucu saya” jawabnya. Kemudian beliau mendapat petunjuk dari mbah Mimbar bahwa beliau disuruh pergi ke suatu daerah dan diberitahu bahwa di daerah situlah nantinya  beliau akan jaya. Nantinya daerah itu akan menjadi ramai.  Setelah saran dari mbah Mimbar beliau laksanakan, sungguh, memang benar terjadi. Daerah tersebut makin lama makin ramai. Terbukti hingga kini kalau daerah tersebut makin ramai dan banyak penduduknya. Oleh sebab itu, masyarakat menyebut daerah itu dengan nama“Rejoso” yang artinya ramai.

Lain halnya dengan cerita yang disampaikan santri Beliau yang bernama Kyai Ma’ruf Kedunglo (Kediri) yang juga belajar Tasawuf pada KH. Mimbar. KH. Ma’ruf pernah bermimpi, di mimpi Beliau ada seseorang yang mengutus untuk belajar di Sambong, Jombang. Setelah mencari-cari bertemulah Beliau dengan Mbah Mimbar. Setelah KH. Ma’ruf merasa cukup di Jombang, Beliau pamit pada Mbah Mimbar untuk menerskan belajar pada Syaikh Kholil. Mendapat izin dari Mbah Mimbar, Beliau berangkat dengan berjalan kaki ditemani salah satu Putra Mbah Mimbar yakni Mbah Nur Salim yang ingin sowan ke Syaikh Kholil. Singkat cerita, pada suatu hari KH. Ma'ruf diutus oleh Syaikh Kholil untuk mengantar sesuatu kepada sahabatnya, Mbah Mimbar. Sesuatu tersebut adalah 3 ekor burung dara. Di tengah perjalanan menuju Jombang, 2 ekor burung dara tersebut lepas dari sangkar, akhirnya KH. Ma'ruf kembali ke Syaikh Kholil dan menceritakan apa yang terjadi di perjalanan. Kemudian Syaikh Kholil mengatakan, "tolong sampekno marang Mimbar, pondoke gak bakal iso gede, tapi bakal tetep ono santrine", (Pondoknya tidak akan bisa jadi pondok besar, tapi akan tetap ada santri yang mondok di Mbah Mimbar).


5. Keluarga dan Generasi Penerus

KH Mimbar dikenal sebagai orang yang tegas dan bijaksana. Kebijaksanaannya diperlihatkan dari caranya memperlakukan santri. Bagi KH Mimbar dulu, tidak ada beda antara santri dengan putranya sendiri, semuanya sama rata. Hampir semua putra putrinya menikah dengan salah satu santri didikan KH Mimbar sendiri. Hal tersebut dikarenakan, Beliau tak memandang dari mana santri  berasal. Dirinya memilih santri yang paling cerdas, alim, serta berilmu untuk dijodohkan dengan putra putrinya. Rupanya, tradisi menjodohkan santri yang cerdas dalam ilmu agama dan umum masih berjalan hingga sekarang, pada keturunan selanjutnya. Santri yang dicari juga dinilai berpotensi bisa melanjutkan perjuangan KH Mimbar untuk memajukan pondok pesantren ke depan

Pernikahan KH. Mimbar dikaruniahi  Delapan (8) Anak yaitu : 

1. Nur Salim, 
2. Maimunah, 
3. Cholil, 
4. Rifa'i, 
5. Marfu'ah, 
6. Mu'minah, 
7. Husen dan 
8. Abdul Mu'id.

KH. Mimbar yang dari sekian Anaknya tersebut dinikahkan dan mempunyai Menantu yang merupakan orang-orang yang Alim dan sebagaian menantu merupakan santri/pernah menjadi santri Beliau  diantaranya : 

  1. Putra Sulungnya  KH. Nur Salim menikah dengan Masfufah, sepupu dari KH Wahab Chasbullah dari Pesantren Tambakberas. Masfufah juga saudara sepupu dengan KH Hasyim Asy’ari
  2. Maimunah menikah dengan KH. Zainuddin bin Kyai Thohir Ya'qub cucu dari Pengasuh Pondok Pesantren Siwalanpanji  yang kemudian Beliau Mendirikan Pondok Pesantren tidak Jauh dari Al-Mimbar yaitu Pondok Pesantren At-Taufiq 
  3. Mu'minah  menikah dengan KH. Hamid Hasbullah  , Beliau menjadi istri ketiga KH. Hamid Hasbulloh dan dikaruniahi Tiga orang anak dari  Pernikahan tersebut  , KH Hamid hasbulloh  merupakan saudara dari KH. Wahab Hasbullah  dan lainnya 

K.H. Mimbar banyak berkerabat dengan pondok-pondok terkenal di sekitarnya seperti, dengan PP. Bahrul Ulum, TambakBeras. Yaitu dari K.H. Chamid Chasbulloh, adiknya K.H. Wahab Chasbulloh, adalah menantu dari K.H. Mimbar. Kalau dengan PP. Darul Ulum Rejoso yaitu Bu Nyai Romli (istri K.H. Romli) adalah keponakannya bu Nyai Mimbar, Bu Yatni. Untuk PP. Tebuireng juga masih saudara, namun, dari nasab yang tinggi (mbah-mbahnya).

Mbah Mimbar wafat pada awal abad 19. Dimakamkan di samping Ayah Beliau, KH. Hasan Rifa'i di Sambong Jombang. Yang saat ini menjadi pemakaman keluarga besar keturunan KH. Mimbar


Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6

SEJARAH  PENDIRIAN DAN PENGEMBANGAN PP AL-MIMBAR

Pesantren didirikan oleh KH. Mimbar yang mempunyai nama asli Mohammad Manshur. Berawal ayah beliau membangun masjid Al-Mimbar terlebih dulu. Baru kemudian, disusul oleh KH. Mimbar mendirikan sebuah pondok pesantren. Masjid tersebut adalah masjid pertama di desa Sambongdukuh, Jombang. Ayah beliau  juga merupakan salah satu orang yang pertama kali menyebarkan agama islam di desanya.

Gambar 1 Gambar 2

Pondok Al-Mimbar adalah salah satu satu pondok salaf yang tertua di kota Jombang. Bahwa pondok Al-Mimbar yang mempunyai kontribusi yang besar besar terhadap pendirinya pondok yang lain. Di antara yang pernah mengaji di pondok Al-Mimbar ini dahulu adalah Kyai Hasyim Asy’ari yang pernah belajar baca Al-Qur’an, Kyai Bisri Syansuri yang juga pernah belajar baca kitab, Kyai Ma’ruf Kedunglo (Kediri) yang juga belajar Tasawuf pada KH. Mimbar. di bawah pengasuhan KH. Al-Mimbar. Pondok Al-Mimbar ini dulu namanya pondok Sambong yang berdiri pada pertengahan abad 19. Pondok pesantren Al-Mimbar ini banyak melahirkan tokoh dan tempat kyai terkenal yang pernah berguru pada mbah Mimbar, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, yaitu pendiri Nahdlatul Ulama (sebuah organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia), selain berguru ilmu agama beliau juga berguru ilmu kanuragan pada mbah Mimbar, K.H. Tamim (Ayah K.H. Romli, Rejoso), K.H. Ma’ruf (Kedunglo, Kediri), dan K.H. Bakar (Bandarkidul, Kediri).


Pesantren Al Mimbar berada di desa Sambongdukuh, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jawa Timur pesantren kini diasuh oleh KH Imron Rosyadi dan. Pesantren Al Mimbar saat ini telah berubah menjadi pesantren modern dengan adanya lembaga pendidikan formal seperti MTs dan MA dengan berdirinya yayasan yang bernama Yayasan Bina Budaya Santri Pondok Pesantren Al-Mimbar , Status pesantren Al-Mimbar Jombang ini sudah semakin berkembang dan fisiknya juga semakin berkembang serta sarana prasarananya juga semakin berkembang , Pesantren Al-Mimbar melakukan banyak hal dibidang pengajaran seperti kajian kitab-kitab kuning yang biasanya dikaji oleh pesantrenpesantren salafiyah lainnya seperti kitab kuning fathul al-qorib,minah qusaniyah, nahwu wadhi’ dan lain sebagainya.

Pesantren Al-Mimbar berdiri di Jl. KH. Mimbar Sambong Dukuh 118-120, dengan fasilitas gedung dan prasarana bertambah berkembang. Tetapi dilihat dari jumlah para santri dan santriwati sarana prasarananya juga memadai karena santri dan santriwati yang mondok di pondok AlMimbar itu jumlahnya selalu puluhan dari tahun dahulu sampai tahun sekarang.

Pesantren Al-Mimbar mengadakan proses pembelajaran kitab kuning bagi santri-santrinya pada waktu pagi dan malam, dalam proses pembelajaran tersebut pesantren Al-Mimbar memiliki pengembangan pembelajaran kitab kuning yang meliputi perencanaan dan metode pembelajaran. Metode yang digunakan dalam sebelum dilakukan pengembangan pembelajaran kitab kuning adalah metode bandongan. Metode bandongan adalah metode yang bagi kiai membaca, menerjemahkan, dan menjelaskan isi kitab, sedangkan santri menyimak, menulis ulang apa yang telah dijelaskan olehkiainya.selain itu juga menggunakan metode ceramah, metode sorogan, dan metode hafalan . Di pondok pesantren Al-Mimbar sekarang ini menggunakan metode drill. Pengembangan pembelajaran kitab kuning tersebut berjalan dengancukup baik, hal ini dapat dilihat dari tanda-tanda berikut, yaitu : 

  1. Santri tidak hanya menerima informasi, tetapi cenderung berusaha untuk mencari informasi,
  2. Mengadakan kajian-kajian yang termasuk memecahkan masalah yang ada dalam masyarakat, seperti halnya santri-santri sering diundang ke bathsul masail yang diadakan oleh pondok pesantren atau dilembaga di Jombang yang sering di ikuti bertujuan untuk keaktifan santridalam mengembangkan pengetahuan,
  3. Santri menjadi lebih aktif bertanya kepada ustadz mengenai materi pelajaran yang belum dimengerti,
  4. Santri menjadi lebih disiplin dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh ustadz, 
  5. Suasana pembelajaran menjadi terlihat lebihmenyenangkan, sehingga perhatian santri menjadi terfokus pada materi yang disampaikan selama proses pembelajaran berlangsung

Perkembangan lembaga tinggi pesantren Al-Mimbar ini pada generasi ini mendirikan lembaga pendidikan formal. Pengertian pendidikan formal bagi para santri pondok pesantren Al-Mimbar Jombang, yaitu pendidikan yang dilaksanakan di sekolah formal yang ada di lingkungan pondok pesantren dan para santri di wajibkan untuk mengikuti pendidikan ini. Pesantren Al-Mimbar Jombang mendirikan lembaga pendidikan formal yaitu Madrasah Aliyah al-Bairuny (MA-AB) yang didirikan pada tahun 1994 yang terletak di jalan KH. Mimbar Sambong Dukuh 118-120. Madrasah al-Bairuny (MA-AB) adalah pengembangan daripada pesantren Al-Mimbar yaitu yang memiliki lembaga pendidikan formal yang didirikan di pesantren Al-Mimbar. 

Pengasuh
  1. KH Imron Rosyadi ( Wafat, Senin 17 Juli 2023/29 Dzul-Hijjah 1444 )
  2. K.H. Farid Ma’ruf, L.C., M.A.

Pendidikan Formal

  • MTs  Al-Bairuny
  • MA  Al-Bairuny
​​Pendidikan Non Formal
  • TPQ
  • Madrasah Diniyah (MD)
  • Majelis Taklim 



1. Madrasah Aliyah (MA)  Al-Bairuny

MA Al-Bairuny Sambongdukuh Jombang awalnya berdiri pada tahun 1994   bermula dari  guru-guru bermusyawarah bagaimana caranya menolong anak-anak yang berkekurangan untuk dapat terus bersekolah. Kemudian karena rumah ustadz Najib yang berada didaerah sambong, ustadz Farid datang ke beliau mengobrolkan tentang hal tadi, dan akhirnya ustadz Farid Ma’ruf mewakafkan tanahnya untuk dijadikan madrasah Al-Bairuny itu. Yang awalnya hanya ada 12 peserta didik yang sekolah disitu, kemudian setelah masuk menjadi 9, dan ketika kelas 3 jumlahnya menjadi 6 peserta didik karena seleksi alam. 

Dengan berjalan tertatih-tatih, yang mana ada sekolahan ya pasti butuh kelas, sehingga akhirnya kelasnya ada dibawah beduk masjid Al-Mimbar.  Dengan jumlah peserta didik 6 tadi bertahan sampai akhir sampai yang masuk ke perguruan tinggi negeriitu berjumlah sepertiga dari jumlah peserta didik yakni 2 orang peserta didik. karena tidak ada sekolah yang peserta didiknya masuk ke perguruan tinggi negeri sampai sepertiga. Setelah itu dari 2 orang peserta didik bergerak terus dan bergerak terus sampai banyak orang tua dan anak yang mau sekolah disini.


Lokasi  dengan alamat Jl. KH.Mimbar No. 118-120 Desa Sambongdukuh Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang Kode Pos 61414 yang mana merupakan lokasi yang cukup setrategis. Karena lokasi yang strategis didekat pasar dan jalan raya, madrasah ini memiliki peserta didik dari berbagai desa dan berbagai kota. Meskipun lembaga ini merupakan lembaga swasta tetapi jumlah peserta didiknya cukup banyak. Serta kualitas tidak kalah ‘dengan madrasah-madrasah lain, karena meskipun madrasah swasta madrasah ini terakreditasi A.

Wallohu A'lam Bissowab

والله أعلمُ بالـصـواب 
“Dan Allah Mahatahu yang benar atau yang sebenarnya”. 

Script

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Komentar yang sekaligus sebagai Informasi dan Diskusi Kita , Bila Belum ada Jawaban Akan secepatnya ditindaklanjuti