Filled Under: ,

SILATURRAHMI & HALAL BI HALAL KELUARGA BESAR ANAK PUTU MBAH HASAN SANUSI ( MBAH SLAGAH )

 



MENGENAL MBAH HASAN SANUSI ( Mbah Slagah / Macan Putih ) 

Mbah Hasan Sanusi di lahirkan di Keboncandi - Kecamatan Gondang Wetan -Pasuruan . Beliau bernama asli Sayyid Hasan Sanusi, Beliau lahir diperkirakan  pada abad ke 17 M. pada masa Adipati
Nitiadiningrat, Bupati Pasuruan pada tahun 1751 – 1799.  Silsilahnya Sayyid Hasan Sanusi bin
Sa'ad bin Syakaruddin bin Sholeh Semendi Winongan bin Hasanuddin bin Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati. Beliau adalah cicit dari Sayyid Sholeh  yang terkenal dengan sebutan Mbah Semendi, Mbah Semendi sendiri masih saudara dari Syarifah Khodijah Bangil dan juga guru dari Sayyid Arif Segoropuro Rejoso (Putra dari Syarifah Khodijah Bangil). Sehingga apabila ditarik garis keturunan nasab, antara beberapa Ulama‟ yang masih dari satu keturunan  Syarif Hidayatullah
Sunan Gunung Jati yang nasabnya sampai pada Siti Fatimah dan sambung dengan Rasulullah Muhammad  ﷺ

Menurut silsilah yang ada dari Dzurriyah Beliau dari Jalur KH Hamdani Siwalanpanji-Buduran Sidoarjo , Beliau ( Mabah Hasan sanusi ) merupakan salah seorang Keturunan Rosullulloh Muhammad ﷺ ke 24


Gambar 1 Gambar 2  


Mbah Hasan Sanusi yang berjulukan Mbah Slagah ( Mbah macan Putih ) menurut keterangan yang disampaiakan saat pembacaan Manaqib (Sejarah) oleh pembawa acara, dijelaskan cerita saat Beliau  berjuang melawan penjajah dulu, sosok Mbah Slagah bisa tampak seperti singa putih yg siap menerkam sehingga dinamakan Slagah.

Mbah Hasan Sanusi, menyebarkan Agama Islam di daerah Malang, maka mendapat julukan Mbah Slagah (Macan Putih). Selanjutnya di Pasuruan terjadi peperangan dgn Belanda yg menimbulkan banyak korban, sehingga adipati yang menguasai Wilayah pasuruan saat itu  Raden Surgo, untuk kembali ke Pasuruan guna melawan penjajah. Belanda saat itu memasuki Pelabuhan Utara yg terletak di Mayangan. 

Perjuangan mengusir penjajah Belanda berhasil, meski adik Mbah Slagah, Mbah Khotib , harus meninggal dari tangan penjajah, yg dimakamkan di Mayangan (sebelah selatan pabrik Boma). akan tetapi pada akhirnya Belanda gagal dalam menduduki Pasuruan.

Mbah Slagah adalah seorang mubaligh dan penyebar agama Islam yg senantiasa mendekatkan hatinya kepada Allah swt. Dalam menunaikan tugas yg suci dan mulia ini beliau tidak mengenal lelah atau putus asa, demi berkembanynga agama Allah, khususnya di daerah Pasuruan dan sekitarnya

Setelah Perjuangan mengusir penjajah Belanda di Pasuruan berhasil ,  oleh Bupati Beliau disuruh menetap di Pasuruan kota, tepatnya di Desa Kebonsari, Kecamatan Bugul. Beliau juga diberi kepercayaan untuk mendirikan masjid besar di wilayah tsb. Masjid Agung Al-Anwar tsb terus berdiri megah hingga sekarang di tengah2 kota, yg didirikan bersama Bupati Pasuruan Nitiadinigrat I. Mbah Slagah kala itu merasa belum ada masjid utama di Pasuruan yg dapat dijadikan tempat beribadah jemaah. Ia sempat ingin membangun sebuah masjid di kawasan Kebonsari. Namun akhirnya Bupati kala itu memberikan sebidang tanah untuk Mbah Slagah di dekat alun2 Pasuruan.

Meski Mbah Slagah berjasa bagi Masjid tsb, beliau berbeda dgn pendiri Masjid-masjid bersejarah lain di mana mereka akan dimakamkan dekat dengan masjid yg ia dirikan. Namun karena wasiat yang Beliau sampaikan  ,Jenazah Mbah Slagah disemayamkan di komplek makam Mbah Slagah, Jalan Slagah Pekuncen Panggung Rejo Pasuruan. 

Beliau berwasiat dimakamkan Jalan Slagah Pekuncen karena  saat Belanda mencarinya di tengah-tengah pertempuran. Mbah Slagah dikejar-kejar Belanda dan beliau masuk ke salah satu rumah untuk bersembunyi. Pemilik rumah tersebut adalah Den Ayu Beri yang mempersilahkan Mbah Slagah untuk segera bersembunyi didalam kain yang sedang dibatik oleh Den Ayu Beri. 


Den Ayu Beri adalah ibu daripada Raden Grudo, bupati Pasuruan pertama. Beliau adalah putri dari selir Kanjeng Susuhunan Pakubuwono II dari bergelar , istri Bupati Pasuruan, Kyai Ngabehi Wongsonegoro, yg bergelar Tumenggung Nitinegoro. Den Ayu Beri merupakan keturunan Sunan Ampel, memiliki seorang anak yg bernama Raden Groedo yg kemudian menggantikan ayahnya sbg bupati Pasuruan dgn gelar Tumenggung Nitiadiningrat I, memerintah hingga 7 Nopember 1799 M, selama 48 tahun. 

 Atas pertolongan itulah maka Mbah Slagah selamat dari kejaran Belanda. Akibat peristiwa tersebut Mbah Slagah merasa berhutang budi kepada Den Ayu Beri. Sebagai tanda terimakasih mbah Slagah menanyakan kepada Den Ayu Beri. “Apa yang kau pinta?.” Maka Den Ayu Beri menjawab : “Saya tidak minta apa-apa, hanya berwasiatlah kepada keluargamu, bila kau meninggal dunia mintalah dimakamkan disamping kuburku. Dan akupun akan berwasiat serupa kepada keluargaku.” 


SILATURRAHIM DZURRIYAH MBAH HASAN SANUSI ( Mbah Slagah ) 

Mbah Hasan Sanusi yang dalam catatan Silsilah yang ada mempunyai Lima Belas (15) Anak , dengan masyhur dan dikenal putra-putri Beliau yaitu: 

  1. Mbah Sofyan , 
  2. Mbah Khotam , 
  3. Mbah Imamuddin , 
  4. Mbah Kharis Khotib dan 
  5. Mbah Syech 
yang dari Putra-putri beliau ini mempunyai Dzurriyah yang sudah turun-temurun hingga Generasi ke 10 
Dengan maksud untuk kembali bisa mempertemukan Dzurriyah Beliau yang sudah turun-temurun tersebut terutama yang berada di sekitar Pasuruan baik Kota maupun Kabupaten , maupun yang berada di luar kota terutama di jawa tersebut dibentuk Forum Silaturrahmi yang Tahun ini dibuat Acara Halal bi Halal ,
Acara halal bi halal yang sengaja tidak dilaksanakan bertepatan dengan Houl yang biasa dilaksanakan setiap tanggal 8 Syawal tersebut , bertujuan agar ada suasana keakraban hanya dari Dzurriyah yang ada dengan tidak bersamaan dengan Acara houl yang biasa dihadiri semua lapisan Masyarakat , Acara Halal bi Halal yang infonya merupakan Acara pertama kali ini dilaksanakan Pada :

Hari : Sabtu  tanggal 29 Syawal 1444 H / 20 Mei 2023 M

Acara yang dimulai saat jam 08:00 WIB meski undangan jam 07:00 WIB , namun karena menunggu kedatangan hadirin yang merupakan Dzurriyah tersebut , waktu menunggu yang digunakan oleh Dzurriyah yang sudah datang dengan berbincang dan berkenalan dengan sesekali suara tawa terdengar disela pembicaraan sebagai ungkapan kegembiraan 

Gambar 1Gambar 2Gambar 3Gambar 4Gambar 5Gambar 6 Acara yang dimulai dengan pembacaan Yasin dan Tahlil yang dilanjutkan dengan pembacaan Sholawat Diba'i   

Gambar 1Gambar 2Gambar 3Gambar 4 Gambar 1Gambar 2Gambar 3Gambar 4Gambar 5Gambar 6Gambar 7Gambar 8Gambar 9Gambar 10Acara berlanjut dengan sambutan-sambutan dengan Acara yang dipandu oleh KH. Nadhif Imam yang sekalian sebelum sambutan dibacakan  Manaqib ( biografi ) mbah hasan Sanusi yang diceritakan seperti diatas, 
Sambutan-sambutan diisi dengan 
  1. Sambutan Perwakilan dari Dzurriyah di Kota Pasuruan yang diwakilkan ke Mas Hidayat bin Imam dari Bani Khotam Kharis  
  2. Sambutan dari ketua yayasan mbah Slagah oleh KH Sa'id Ahmad   yang menyampaikan tentang pentingnya mengingat kembali Mbah-mbah terdahulu sebagai tauladan dalam Perjuangan menegakkan kalimatulloh (Agama islam ) dan Perjuangan menegakkan kemerdekaan sebagai refleksi memberikan kemanfaatan bagi sesama ( anfa'uhum lin nass ) dan Absus salam ( menebar keselamatan )  dan disampaikan pula kebanggaan akan nasab tidak akan membawa kemanfaatan bagi sesepuh (mbah Slahgah )  jika tidak meniru/mentauladani amaliah sesepuh (mbah Hasan Sanusi ) 
  3. Sambutan dari perwakilan Dzurriyah di Pasuruan kabupaten yang diwakilkan ke KH. Lukman yang menyampaikan dan menjabarkan kunci 3 hal yang membuat kemuliaan manusia yaitu Intisab Ilal An'biya' ( menjadikan keturunan atau yang menghubungkan diri dengan Para nabi ) yang berarti kecintaan dan ketauladanan kepada nabi-nabi Alloh  , yang kedua Intisab ilal Ulama' ( menjadikan keturunan atau yang menghubungkan diri dengan Para Ulama' ) yang merupakan penerus nabi-nabi setelah Rosululloh ﷺ dan terahir intisab ilal Syuhada' ( menjadikan keturunan atau yang menghubungkan diri dengan Para Syuhada') yang dari ketiganya ada pada diri mbah Hasan Sanusi  dan disampaikan pula " Kebaikan Waliyulloh yang telah wafat kepada kerabatnya , akan lebih peduli saat beliau masih hidup " 
dan Acara ditutup dengan Do'a yang disampaikan KH. Muzakki 
Gambar 1Gambar 2Gambar 3Gambar 4 Gambar 1Gambar 2Gambar 3Gambar 4 Acara demi acara selesai dan berahir dengan ramah tamah yang dengan makan bersama secara talaman " ratubahan " dengan menu nasi kebuli dan gule yang ada dengan penuh keakraban dan berbincang setelahnya membuat keakraban Dzurriyah semakin terjaga dan diharapkan akan terus terjalin  Gambar 1Gambar 2Gambar 3Gambar 4Gambar 5Gambar 6Gambar 7Gambar 8 Terahir sebelum semua Dzurriyah meninggalkan tempat, Acara seperti biasa di bulan Syawal dan di Acara Halal bi Halal adalah dengan bersalaman dan berma'afan terutama kepada sesepuh yang kemudian dengan berfoto bersama

Gambar 1Gambar 2Gambar 3Gambar 4 Gambar 1Gambar 2Gambar 3Gambar 4
 Wassalam , Pasururan 20 Mei 2023

Script

1 comments:

  1. Assalamualaikum. Wr. Wb...
    Ngapunten mau tanya, untuk anak keturunan Mbah Slagah yg berjumlah 15 orang tsb apakah ada yg perempuan? Kl boleh tau siapa saja namanya..Maturnuwun admin 🙏

    BalasHapus

Terima Kasih Atas Komentar yang sekaligus sebagai Informasi dan Diskusi Kita , Bila Belum ada Jawaban Akan secepatnya ditindaklanjuti