بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ,
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ,
Acara Silaturrahim DZURRIYAH HAMDANI yang diadakan setiap tahunnya yang Tujuannya untuk Mempererat Silaturrahim anak Turun ( Dzurriyah ) K.H Khamdani Siwalan panji yang kini sudah menyebar ke seluruh penjuru Negeri bahkan sebagaian ada yang berdomisili di Luar Negeri .
Ahad, 21 April 2024 / 12 Syawal 1445 H
Penempatan yang Pada tahun ini Lokasinya dipilih di :
Komplek Makam Mbah Soleh Semendi Pasuruan .
Script
RIWAYAT KH. MIMBAR
1. Nasab dan Kelahiran
KH. Mimbar. Beliau lahir di Jombang pada awal abad 18, Perkiraan tepatnya di mungkinkan ditahun 1814 ( tidak ada data yang menunjukan kepastian tahun kelahiran Beliau ) di Desa Sambong. Beliau merupakan Putra dari KH. Hasan Rifa'i dari Pesantren Sewulan Pagotan Madiun dengan Tiga Bersaudara , Di lain Cerita dan data yang ada Beliau KH Mimbar lahir sekitar tahun 1864. Nama aslinya Muhammad Manshur anak dari KH Hasan Rifai dari Pesantren Sewulan Pagotan Madiun. Dijuluki Kiai Mimbar kemungkinan karena pandai berceramah di atas mimbar sehingga menarik perhatian jamaah.Menurut data yang masih tersisa, KH Mimbar bukanlah lahir dari keturunan orang biasa. Jika diruntut hingga tinggi, KH Mimbar diklaim salah satu dari garis keturunan Nabi Muhammad SAW dari putrinya Fatimah Al-Zahra dan Ali bin Abi Thalib, kemudian Husain bin Ali bin Abi Thalib ,
K.H. Mimbar merupakan pendiri pondok pesantren Al-Mimbar di desa Sambongdukuh Jombang yang merupakan salah satu pondok pesantren tertua di Jombang ,
2. Sanat Ilmu dan Pendidikan
KH. Mimbar Putra dari KH. Hasan Rifa'i tersebut dilahirkan dan dibesarkan dengan ilmu keagamaan dan kepesantrenan. Lebih cenderung dalam hal Al-Qur’an dan beberapa kitab fiqih ataupun nahwu shorof ,
Saat berusia kurang lebih 15 tahun sering sekali Beliau “sowan” atau silaturahmi ke Kyai-Kyai di Jawa Timur. Beberapa di antaranya adalah KH. Muhammad Nur (Pondok Langitan Tuban), KH. Abdul Lathif (Ayah Syaikh Kholil Bangkalan, Madura), KH. Abdus Salam (Gedang, Jombang), dan masih banyak lainnya. Menginjak usia dewasa, Mbah Mimbar diutus Ayah Beliau untuk pergi haji. Dengan modal Bismillah dan tekad kuat Beliau berangkat dengan cara menumpang kapal milik Saudagar Hindi-Belanda yang saat itu sedang menjajah Nusantara. Atas izin Allah Beliau sampai di Arab dan dapat menunaikan Ibadah Haji.
Di Makkah Beliau bertemu salah satu Syaikh yang berasal dari Indonesia, yakni ”Syaikh Nawawi Al-Bantani”. Melihat kesempatan emas itu Mbah Mimbar berniat untuk menetap sementara di Makkah, sembari belajar pada Syaikh Nawawi. Syaikh Nawawi memiliki beberapa murid yang berasal dari Indonesia saat itu, salah satunya adalah Mbah Kholil Bangkalan. Karena itulah Mbah Mimbar dan Mbah Kholil menjadi sahabat di Makkah. Mereka belajar bersama pada Syaikh Nawawi Al-bantani.
3. Da'wah dan Pendirian Pondok Pesantren Sambong (Al-Mimbar )
Da'wah KH Mimbar dimulai setelah kepulangan Beliau dari Makkah setelah sekitar setahun setengah Mbah Mimbar belajar di Makkah dengan melanjutkan perjuangan Da'wah Ayahnya yang lebih dulu membangun Masjid yang kemudian dinamakan masjid Al-Mimbar , Masjid tersebut adalah masjid pertama di desa Sambongdukuh, Jombang. Ayah beliau juga merupakan salah satu orang yang pertama kali menyebarkan agama islam di desanya ,
KH. Mimbar melanjutkan perjuangan Ayah Beliau dengan merenovasi masjid dan membangun surau/padepokan kecil. Beliau mengajak beberapa warga Sambong untuk membantu pembangunan, dan akhirnya berdirilah Pondok Sambong. Di Pondok tersebut Mbah Mimbar memulai jalan dakwah. Diawali dengan mengajak warga Sambong dan sekitarnya untuk belajar baca tulis arab, hingga mengaji Al-Qur'an. Bahkan Masjid Sambong menjadi pusat keagamaan di Jombang pada saat itu.
Media dan tempat belajar mengajar pengetahuan Islam yang berupa Pondok Pesantren yang didirikan KH. Mimbar di Dukuh sambong tersebut kemudian bernama Pondok sambong dan kini bernama Pondok Pesantren Al-Mimbar.
Pondok pesantren Al-Mimbar ini banyak melahirkan tokoh dan tempat kyai terkenal yang pernah berguru pada mbah Mimbar, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, yaitu pendiri Nahdlatul Ulama (sebuah organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia), selain berguru ilmu agama beliau juga berguru ilmu kanuragan pada mbah Mimbar, K.H. Tamim (Ayah K.H. Romli, Rejoso), K.H. Ma’ruf (Kedunglo, Kediri), dan K.H. Bakar (Bandarkidul, Kediri).
4. Karomah , Perjuangan dan Kemaslahatan untuk Negeri dan Ummat
KH Mimbar yang dikenal 'Alim , Zuhud dan Dermawan tersebut juga merupakan seorang yang mempunyai banyak karomah yang diberikan Alloh SWT kepada Beliau , Beliau mempunyai karomah dengan ucapan Beliau yang mudah menjadi kenyataan. Tak heran jika hampir semua santrinya saat itu banyak yang berhasil. Sebab santri dulu lebih penurut, ditunjang ucapan dan doa KH Mimbar yang mudah menjadi kenyataan.
Ilmu KH Mimbar yang paling terkenal ilmu suwuk, sehingga ia tak perlu menggunakan alat untuk berperang, tapi beliau bisa menumbangkan banyak musuh hanya dengan Do'a-do'a . Beliau terkenal akan ilmu kesaktian kanuragan atau semacam ilmu bela diri. Pantas saja, didukung juga dengan bentuk fisik beliau yang tinggi dan besar. Konon, karena hal itu juga membuat para penjajah Jepang tidak berani mendekati beliau dan daerah sekitar pesantrennya. Karena ketakutan para penjajah terhadap kesaktian mbah Mimbar menjadikan pondok pesantren Al-Mimbar aman dan terlindungi dari mereka. Beliau mengajarkan ilmu kanuragan tersebut kepada santri-santrinya agar santrinya bisa menjaga diri dari segala macam bahaya.
KH. Mimbar bukan hanya menjadi pejuang agama dengan menggandeng siapapun yang bisa diajak untuk memperkokoh Islam,. Beliau juga pejuang bangsa yang turut melawan Belanda. Beliau berjuang dengan doa dan ilmu-ilmu lain yang tidak banyak dikuasai orang lain , Beliau bisa membunuh musuh tanpa menampakkan wijudnya .
Selain itu, beliau juga dari beberapa sumber juga menyebutkan, bahwa beliau juga ahli di bidang pengobatan. Sifat beliau yang menonjol adalah sifat penyabarnya. Beliau tidak pernah menggunakan jalan kekerasan dalam mendidik para santrinya
Hal lain yang pernah diceritakan karomah beliau yaitu Firasat Beliau kepada salah satu santrinya yang bernama K.H. Tamim (ayah K.H. Romli, Rejoso). Ada cerita berkesan antara mbah Mimbar dengan K.H. Tamim. Pada suatu saat mbah Mimbar menjumpai beliau yang seketika itu sedang sedih. “ Tamim, ada apa? Kenapa kamu menangis?” Tanya mbah Mimbar. “ Saya gelisah kyai, saya bingung bagaimana nanti dengan nasib anak cucu saya” jawabnya. Kemudian beliau mendapat petunjuk dari mbah Mimbar bahwa beliau disuruh pergi ke suatu daerah dan diberitahu bahwa di daerah situlah nantinya beliau akan jaya. Nantinya daerah itu akan menjadi ramai. Setelah saran dari mbah Mimbar beliau laksanakan, sungguh, memang benar terjadi. Daerah tersebut makin lama makin ramai. Terbukti hingga kini kalau daerah tersebut makin ramai dan banyak penduduknya. Oleh sebab itu, masyarakat menyebut daerah itu dengan nama“Rejoso” yang artinya ramai.
Lain halnya dengan cerita yang disampaikan santri Beliau yang bernama Kyai Ma’ruf Kedunglo (Kediri) yang juga belajar Tasawuf pada KH. Mimbar. KH. Ma’ruf pernah bermimpi, di mimpi Beliau ada seseorang yang mengutus untuk belajar di Sambong, Jombang. Setelah mencari-cari bertemulah Beliau dengan Mbah Mimbar. Setelah KH. Ma’ruf merasa cukup di Jombang, Beliau pamit pada Mbah Mimbar untuk menerskan belajar pada Syaikh Kholil. Mendapat izin dari Mbah Mimbar, Beliau berangkat dengan berjalan kaki ditemani salah satu Putra Mbah Mimbar yakni Mbah Nur Salim yang ingin sowan ke Syaikh Kholil. Singkat cerita, pada suatu hari KH. Ma'ruf diutus oleh Syaikh Kholil untuk mengantar sesuatu kepada sahabatnya, Mbah Mimbar. Sesuatu tersebut adalah 3 ekor burung dara. Di tengah perjalanan menuju Jombang, 2 ekor burung dara tersebut lepas dari sangkar, akhirnya KH. Ma'ruf kembali ke Syaikh Kholil dan menceritakan apa yang terjadi di perjalanan. Kemudian Syaikh Kholil mengatakan, "tolong sampekno marang Mimbar, pondoke gak bakal iso gede, tapi bakal tetep ono santrine", (Pondoknya tidak akan bisa jadi pondok besar, tapi akan tetap ada santri yang mondok di Mbah Mimbar).
5. Keluarga dan Generasi Penerus
KH Mimbar dikenal sebagai orang yang tegas dan bijaksana. Kebijaksanaannya diperlihatkan dari caranya memperlakukan santri. Bagi KH Mimbar dulu, tidak ada beda antara santri dengan putranya sendiri, semuanya sama rata. Hampir semua putra putrinya menikah dengan salah satu santri didikan KH Mimbar sendiri. Hal tersebut dikarenakan, Beliau tak memandang dari mana santri berasal. Dirinya memilih santri yang paling cerdas, alim, serta berilmu untuk dijodohkan dengan putra putrinya. Rupanya, tradisi menjodohkan santri yang cerdas dalam ilmu agama dan umum masih berjalan hingga sekarang, pada keturunan selanjutnya. Santri yang dicari juga dinilai berpotensi bisa melanjutkan perjuangan KH Mimbar untuk memajukan pondok pesantren ke depan
Pernikahan KH. Mimbar dikaruniahi Delapan (8) Anak yaitu :
KH. Mimbar yang dari sekian Anaknya tersebut dinikahkan dan mempunyai Menantu yang merupakan orang-orang yang Alim dan sebagaian menantu merupakan santri/pernah menjadi santri Beliau diantaranya :
K.H. Mimbar banyak berkerabat dengan pondok-pondok terkenal di sekitarnya seperti, dengan PP. Bahrul Ulum, TambakBeras. Yaitu dari K.H. Chamid Chasbulloh, adiknya K.H. Wahab Chasbulloh, adalah menantu dari K.H. Mimbar. Kalau dengan PP. Darul Ulum Rejoso yaitu Bu Nyai Romli (istri K.H. Romli) adalah keponakannya bu Nyai Mimbar, Bu Yatni. Untuk PP. Tebuireng juga masih saudara, namun, dari nasab yang tinggi (mbah-mbahnya).
Mbah Mimbar wafat pada awal abad 19. Dimakamkan di samping Ayah Beliau, KH. Hasan Rifa'i di Sambong Jombang. Yang saat ini menjadi pemakaman keluarga besar keturunan KH. Mimbar
SEJARAH PENDIRIAN DAN PENGEMBANGAN PP AL-MIMBAR
Pesantren didirikan oleh KH. Mimbar yang mempunyai nama asli Mohammad Manshur. Berawal ayah beliau membangun masjid Al-Mimbar terlebih dulu. Baru kemudian, disusul oleh KH. Mimbar mendirikan sebuah pondok pesantren. Masjid tersebut adalah masjid pertama di desa Sambongdukuh, Jombang. Ayah beliau juga merupakan salah satu orang yang pertama kali menyebarkan agama islam di desanya.
Pondok Al-Mimbar adalah salah satu satu pondok salaf yang tertua di kota Jombang. Bahwa pondok Al-Mimbar yang mempunyai kontribusi yang besar besar terhadap pendirinya pondok yang lain. Di antara yang pernah mengaji di pondok Al-Mimbar ini dahulu adalah Kyai Hasyim Asy’ari yang pernah belajar baca Al-Qur’an, Kyai Bisri Syansuri yang juga pernah belajar baca kitab, Kyai Ma’ruf Kedunglo (Kediri) yang juga belajar Tasawuf pada KH. Mimbar. di bawah pengasuhan KH. Al-Mimbar. Pondok Al-Mimbar ini dulu namanya pondok Sambong yang berdiri pada pertengahan abad 19. Pondok pesantren Al-Mimbar ini banyak melahirkan tokoh dan tempat kyai terkenal yang pernah berguru pada mbah Mimbar, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, yaitu pendiri Nahdlatul Ulama (sebuah organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia), selain berguru ilmu agama beliau juga berguru ilmu kanuragan pada mbah Mimbar, K.H. Tamim (Ayah K.H. Romli, Rejoso), K.H. Ma’ruf (Kedunglo, Kediri), dan K.H. Bakar (Bandarkidul, Kediri).
Pesantren Al-Mimbar berdiri di Jl. KH. Mimbar Sambong Dukuh 118-120, dengan fasilitas gedung dan prasarana bertambah berkembang. Tetapi dilihat dari jumlah para santri dan santriwati sarana prasarananya juga memadai karena santri dan santriwati yang mondok di pondok AlMimbar itu jumlahnya selalu puluhan dari tahun dahulu sampai tahun sekarang.
Pesantren Al-Mimbar mengadakan proses pembelajaran kitab kuning bagi santri-santrinya pada waktu pagi dan malam, dalam proses pembelajaran tersebut pesantren Al-Mimbar memiliki pengembangan pembelajaran kitab kuning yang meliputi perencanaan dan metode pembelajaran. Metode yang digunakan dalam sebelum dilakukan pengembangan pembelajaran kitab kuning adalah metode bandongan. Metode bandongan adalah metode yang bagi kiai membaca, menerjemahkan, dan menjelaskan isi kitab, sedangkan santri menyimak, menulis ulang apa yang telah dijelaskan olehkiainya.selain itu juga menggunakan metode ceramah, metode sorogan, dan metode hafalan . Di pondok pesantren Al-Mimbar sekarang ini menggunakan metode drill. Pengembangan pembelajaran kitab kuning tersebut berjalan dengancukup baik, hal ini dapat dilihat dari tanda-tanda berikut, yaitu :
Perkembangan lembaga tinggi pesantren Al-Mimbar ini pada generasi ini mendirikan lembaga pendidikan formal. Pengertian pendidikan formal bagi para santri pondok pesantren Al-Mimbar Jombang, yaitu pendidikan yang dilaksanakan di sekolah formal yang ada di lingkungan pondok pesantren dan para santri di wajibkan untuk mengikuti pendidikan ini. Pesantren Al-Mimbar Jombang mendirikan lembaga pendidikan formal yaitu Madrasah Aliyah al-Bairuny (MA-AB) yang didirikan pada tahun 1994 yang terletak di jalan KH. Mimbar Sambong Dukuh 118-120. Madrasah al-Bairuny (MA-AB) adalah pengembangan daripada pesantren Al-Mimbar yaitu yang memiliki lembaga pendidikan formal yang didirikan di pesantren Al-Mimbar.
Pendidikan Formal
1. Madrasah Aliyah (MA) Al-Bairuny
MA Al-Bairuny Sambongdukuh Jombang awalnya berdiri pada tahun 1994 bermula dari guru-guru bermusyawarah bagaimana caranya menolong anak-anak yang berkekurangan untuk dapat terus bersekolah. Kemudian karena rumah ustadz Najib yang berada didaerah sambong, ustadz Farid datang ke beliau mengobrolkan tentang hal tadi, dan akhirnya ustadz Farid Ma’ruf mewakafkan tanahnya untuk dijadikan madrasah Al-Bairuny itu. Yang awalnya hanya ada 12 peserta didik yang sekolah disitu, kemudian setelah masuk menjadi 9, dan ketika kelas 3 jumlahnya menjadi 6 peserta didik karena seleksi alam.
Dengan berjalan tertatih-tatih, yang mana ada sekolahan ya pasti butuh kelas, sehingga akhirnya kelasnya ada dibawah beduk masjid Al-Mimbar. Dengan jumlah peserta didik 6 tadi bertahan sampai akhir sampai yang masuk ke perguruan tinggi negeriitu berjumlah sepertiga dari jumlah peserta didik yakni 2 orang peserta didik. karena tidak ada sekolah yang peserta didiknya masuk ke perguruan tinggi negeri sampai sepertiga. Setelah itu dari 2 orang peserta didik bergerak terus dan bergerak terus sampai banyak orang tua dan anak yang mau sekolah disini.
Wallohu A'lam Bissowab
RIWAYAT KH. JUWAINI
Wallohu A'lam Bissowab
KH. Ahmad Hafidzuddin bin Ustman Basyaiban atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Hafid Nogosari lahir di Desa Brongkal Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Ageng Usman berasal dari Mataram dan masih ada keturunan dengan Raden Fatah sekaligus juga keturunan Prabu Brawijaya Majapahit. Ayah beliau, KH. Ageng Usman di makamkan di pemakaman Gribik Malang. Beliau yang merupakan saudara kandung dengan KH. Kholil Ustman Brongkal - Pagelaran - Malang
Mbah Hafid menghadap keharibaan ilahi Rabbi pada Senin tanggal 27 Shafar 1406 H, dalam usia kurang lebih 105 tahun. Beliau yang bertempat tinggal terahir di Komplek Pondok Pesantren Al-Hafidzi, Sari, Nogosari, Kec. Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur , tersebut dimakamkan di Pesarean Keluarga nDalem Pondok Pesantren Al-Hafidzi dan meninggalkan 12 putra-putri,
KELUARGA
PENDIDIKAN
KH. Ahmad Hafidzuddin memulai pendidikannya dengan belajar ilmu agama kepada ayahnya yang juga seorang Ulama' yang Alim . Setelah selesai belajar dengan sang Ayah , beliau melanjutkan dengan belajar ilmu agama kepada KH. R Khozin bin Khoiruddin Siwalan Panji Sidoarjo.
Setelah bebarapa tahun beliau belajar kepada Mbah Kiai Khozin, Kiai Hafidz berangkat menimba ilmu di Mekkah kurang lebih selama tujuh tahun. Menurut salah satu sumber dari Almarhum mbah Kiai Ibrohim Pasuruan (teman mondok Mbah Hafid) bahwasanya menurut beliau jika Kiai Hafid juga berguru kepada Mbah Kholil Bangkalan selama kurang lebih 16 tahun.
Dikisahkan oleh KH. As'ad Syamsul Arifin Situbondo yang juga merupakan teman Beliau (KH. Ahmad Hafidzuddin ) sama-sama menjadi santri KH. R Khozin , Bahwasannya suatu ketika Kyai Khozin menyatakan ini calon Waliyulloh sambil menunjuk ke Kyai Hafidz yang masih muda , cerita tersebut diampaikan KH. As'ad Syamsul Arifin waktu acara memperingati 40 hari wafatnya Kyai Hafidz Nogosari.
AMALIAH DAN KAROMAH
Setiap hari Ahad beliau Mbah Hafid mengadakan pengajian kitab tafsir secara umum yang banyak di hadiri oleh masyarakat dan kiai-kiai sekitar Kecamatan Rambipuji - Jember
Ketika membaca ayat-ayat suci al-Quran suara beliau sangat tartil, merdu dan sangat fasih, beliau sangat hati-hati dan benar-benar menerapkan ilmu tajwid seuai makhorijul hurufnya. Begitu juga ketika beliau membaca aurad dzikir-dzikir beliau membacanya dengan cara perlahan, jelas, fasih, tidak terburu buru, karena bahasa arab beda pengucapan artinya bisa jauh berbeda.
Mbah Hafidz tidak hanya terkenal dengan kealimannya tapi juga dengan kekeramatanya, banyak orang yang sowan kepada beliau minta sambung barokah doa, mulai dari habib, ulama, kiai, masyarakat umum dan orang-orang non muslim, juga orang-orang tionghoa atau china.
Habib Muhammad bin Ali Al-Habsy dari Ketapang Probolinggo sendiri sangat menghormati Mbah Hafid Nogosari, sampai-sampai karena ta’dzimnya Habib Muhammad beliau tidak berani duduk dihadapannya tanpa seizin Mbah Kyai Hafid.
Menurut beberapa sumber yang bisa dipercaya salah satu kekeramatan Mbah Hafid yang luar biasa yang Allah S.W.T Anugrahkan bahwasannya beliau sering dirawuhi (di kunjungi) Rasulullah secara yaqdloh secara sadar. Kejadian ini sering terjadi kepada orang-orang yang sudah menjadi pilihan Allah, yang memiliki tingkat mahabbah billah serta mahabbah birrasul yang tinggi.
Hal lain yang juga salah satu menunjukan Karomah Beliau adalah cerita yaitu Suatu hari sekitar tahun 1975 Mbah Hafid kedatangan tamu istimewa dari Brongkal Malang, yang tidak lain adalah adik kandung beliau sendiri yang bernama KH. Muhammad Kholil bin Usman (Mbah Kholil Brongkal) yang rencana mau pamitan kepada sang kakak untuk menunaikan ibadah Haji. Belum sempat Kiai Kholil masuk rumah tiba-tiba Mbah Hafid sudah keluar untuk menyambut sang adik langsung menciuminya dan memeluknya begitu lama sambil beliau menangis, dengan suara gemetar Mbah Hafid mengucapkan waktunya sudah tiba – waktunya sudah tiba. Ternyata sang adik tercinta di panggil oleh Allah dan di makamkan di Makkah.
Selain itu, ada suatu kisah yang menarik, suatu hari Pak Sholeh sowan kepada Mbah Kiai Khotib Abdul Karim Curah Kates- Ajung Jember yang juga terkenal kekeramatannya, banyak yang mengatakan jika Mbah Khotib adalah seorang Waliyullah.
Wallohu A'lam Bissowab
|
4. Masa Periode Generasi ke Empat (4) dan Menjaga Keberlangsungan Pondok Pesanteren Siwalanpanji
Pada masa Generasi selanjutnya yang terjadi dengan Wafatnya KH. Hasyim Abdurrohim yang sebelumnya menurut salahsatu cerita beliau sebelum wafat mengalami kebutaan ( yang ada perbedaan sejarah masalah penyebab kebutaan Beliau) dan KH. Khozin Choiruddin masih hidup ,
Banyaknya santri pada masa itu yang pondok tidak mampu menampung dan santri hingga harus tidur disembarang tempat hingga sampai meluber dipinggir sungai . membuat Pondok pesantren kepengasuhan dari masyayikh dari Sanad langsung dari KH Hamdani harus terus berjalan . pada masa itu yang sedikit demi sedikit KH. Khozin Khoiruddin menarik diri dari pondok panji dengan memberikan kesempatan bagi generasi penerus Masyayikh Siwalanpanji yang kemudian jatuh ke KH. Ahmad Faqih Hasyim yang juga merupakan cucu KH. Ya'qub Hamdani .
Estafet masyayikh Pondok Siwalanpanji yang diserahkan ke Kyai Ahmad Faqih Hasyim yang terkenal dengan kesaktian ilmu kanuragannya tersebut dengan masih didampingi oleh senior Beliau KH. Khozin berlangsung hingga ada kejadian kebakaran langgar tempat kyai Khozin tidur dan mengajar disitu sekitar tahun 1933 . Setelah kebakaran tersebut Kyai Khozin mulai tidak banyak mengajar santri-santri di siwalanpanji dan mulai mempersiapkan membuat pondokan di Buduran untuk digunakan putra Beliau yang saat itu masih mondok di makkah yaitu KH. M. Abbas Khozin hingga wafatnya beliau di tahun 1943 H.
Kesaktian ilmu kanuragan Masyayikh Panji tersebut membuat Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah pada saat itu juga dikenal dengan ilmu kanuragan , pada masa yang memang membutuhkan kesiapan Mental dan Ilmu Kanuragan dalam Mengusir penjajah , mempertahankan kemerdekaan dan menghalau rongrongan Penghianatan terhadap bangsa dan Negara , dengan semboyan “setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya.” pondok Panji tampil menjadi tempat yang cukup diperhitungkan pada masa ini , Kesaktian ilmu kanuragan Kyai Faqih disatu cerita dapat dibuktikan dari tindakan Beliau yang terkadang diluar nalar manusia biasa seperti mengangkat kereta dengan benang jarum dan lain – lain sehingga beliau disegani oleh orang – orang Penjajah pada saat itu bahkan beliau telah mengalahkan orang jepang dan menaklukkan pemberontakan PKI
Pada Masa ini dihadapkan pada masa-masa menjelang kemerdekaan dan masa-masa mempertahankan kemerdekaan sehingga kondisi ekonomi, sosial dan kemasyarakatan mengalami masa sulit bagi seluruh bangsa Indonesia tak terkecuali pada keberlangsungan pondok siwalanpanji . pada masa ini pondok siwalanpanji yang saat itu dikenal sebagai pondok yang melahirkan para santri pejuang tidak luput dari sasaran pengeboman, disituasi perang tersebut menelan kurban nyawa dari sebagaian santri dan Dzurriyah masyayikh siwalanpanji . disamping kurban sarana pondok yang ikut porak-poranda hingga menyebabkan sebagaian besar pada Menggungsi termasuk Masyayikh dan keluarga Dzurriyah Siwalanpanji .
Pada masa ini menurut sumber lainnya setelah wafatnya KH. Khozin Choiruddin , Kepengasuhan Pondok Siwalanpanji juga dibantu oleh Adik KH. Ahmad Faqih Hasyim yaitu Kyai Ahmad Sholeh Hasyim dan dibantu juga Putra Sulung KH. Khozin Choiruddin dari pernikahan Ke-dua Beliau dengan Nyai Maimunah Abdurrohim yaitu Kyai Basuni Khozin . Pada Masa ini bisa dikatakan sebagai masa yang lebih hanya bisa menjaga keberlangsungan Pondok pesantren hingga wafatnya KH. Ahmad Faqih Hasyim di tahun 1955 .
Menurut riwayat yang lainnya Beliau ( KH A. Faqih Hasyim ) disamping pandai dalam ilmu kanuragan juga mempunyai keleluwesan pendekatan kepada warga sekitar hingga disamping mengajar di pesantren Beliau juga mengajar di masyarakat dengan pengajian umum satu minggu sekali atau yang di kenal dengan “ Dirosah “ tak heran ratusan bahkan ribuan masyarakat yang berdatangan hanya untuk mendengarkan nasehat dan petuah beliau yang menyejukkan hati. Dari sinilah muncullah gagasan beliau untuk mendirikan pendidikan islam formal yaitu: Roudhotul Athfal/ TK dan Madrasah Ibtidaiyah / SD (Tahun 1950),
Sepeninggal Beliau yang dari pernikahan Beliau dengan Nyai Nafi'ah tidak dikaruniahi anak sehingga estafet pengasuhan diserahkan ke Kyai Abdulloh Siddiq bin Siddiq bin Ya'qub dan masa bersamaan pula Kyai Faqih Menyuruh/menaruh KH. Abdul Haq yang saat itu di jombang pindah ke panji sekitar tahun 1954 M dan menempati rumah yang dulunya digunakan Kyai Muhith Ya'qub .
5. Masa Periode Generasi ke Lima (5) dan Menjaga Kebersamaan Masyayikh Pondok Pesanteren Siwalanpanji
Masa generasi ke lima dengan Wafatnya KH Ahmad Faqih Hasyim yang dilanjutkan oleh Kyai Abdulloh Siddiq bin Siddiq Ya'qub yang menurut satu cerita beliau merupakan seorang yang A'lim dan banyak melakukan Riyadhoh bahkan satu cerita Beliau karena Riyadhoh dan seringnya melakukan Tirakat hingga terkesan menjadi seorang yang " Jadzab " yaitu kondisi yang menggambarkan seseorang ketika ia tiba-tiba ditarik oleh Allah Swt sampai terbuka hijabnya (batas kesadaran). Ia wushul ke hadirat ilahiah, sehingga jiwanya menjadi terguncang. Seorang yang dalam kondisi jadzab disebut sebagai wali majdzub. Dalam kondisi ini, ia bisa saja mengeluarkan kata syathah atau perbuatan yang dinilai ganjil oleh orang awam.
Beliau yang menjadi pengasuh dikisaran tahun 1955 - 1968 dengan diberikan amanah santri yang saat itu masih dikisaran 600 hingga 700 santri saat setelah ditinggal wafat KH. Ahmad Faqih , dengan Kealiman , Riyadhoh dan kedermawanan nya meski sesekali timbul kelakuan " Jadzab" nya tersebut Beliau bisa menjadi penyatu kebersamaan Dzurriyah dari KH. hamdani yang saat ini masa susah dengan tercerai berainya kondisi sosial kemasyarakatan di zaman Revolusi kemerdekaan dan pemberontakan-pemberontakan yang juga mempengaruhi perbedaan-perbedaan pendapat diantara Dzurriyah .
Tidak banyak cerita perkembangan Pesantren Siwalanpanji pada masa ini hingga hanya terdengar cerita mulai berkurangnya Santri-santri yang datang dan banyak yang boyong hingga masa berahir beliau wafat ditahun 1968 M , Beliau belum melakukakan regenerasi dan memberikan amanah kepengasuhan Pesantren Siwalanpanji kepada Dzrriyah yang ada .yang mungkin karena Beliau yang Jadzab , begitu cerita yang kembali disampaiakan KH Abdul Bari bin Muhammad Busyro
6. Masa Periode Generasi ke Enam (6) Masa Degradasi Pondok Pesanteren Siwalanpanji
Masa generasi ini yang terjadi setelah wafatnya Masyayikh Kyai Abdulloh Siddiq bin Siddiq Ya'qub ( yang mendapat legitimit secara penunjukan oleh Masyayikh sebelumnya ) pada tahun 1968 , yang sepeninggal Beliau belum ada Regenerasi yang dipersiapkan untuk Generasi berikutnya membuat sedikit banyak menimbulkan perbedaan pendapat dan perselisihan diantara Dzurriyah . kekosongan sementara dan dengan persetujuan dari rapat keluarga ditunjuklah Kyai Abdul Hayyi bin Asmu'i yang saat itu masih berada di Juwingan Surabaya sebagai Pengasuh . dan setelah wafatnya Beliau kemudian dilanjutkan menjadi Pengasuh yaitu adik beliau bernama KH. Asy'ari bin Asmu'i ,
Pada tahun 1974 an masuk ke Panji Kyai Rifa'i bin H. Thoyyib (Umi Kulsum ) ke siwalanpanji setelah sebelumnya Beliau di Malang , dan beberapa tahun kemudian disusul putra/putri Beliau salahsatunya KH. Abdurrochim bin Rifa'i
Pada tahun 1976 ada pertemuan keluarga yang saat itu bernama " Bani Hamdani " yang memicu perselisihan pada kepengurusannya dan berimplementasi pada Pengasuhan Pondok Pesantren yang kemudian bernama Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah tersebut dimasa beliau . dengan masuknya KH. Abdul Haq bin Zainuddin Thohir yang sebelumnya disuruh menempati rumah bekas KH. Muhith Ya'qub oleh Kyai Faqih Hasyim , menjadi Pengasuh di Pondok Al-Hamdaniyah dan menurut sebuah sumber Beliau juga mengklaim sebagai keturunan dari Silsilah jalur Laki-laki dari semua Dzurriyah dari KH. Hamdani , sehingga pada masa tersebut ada perbedaan pendapat yang mengakibatkan perselisihan diantara keluarga Dzurriyah .
Pada masa ini terjadi penurunan yang sangat drastis dalam pengajaran maupun dalam jumlah santri .masa yang kepengasuhan (Masyayikh) belum dipastikan siapa yang mempunyai hak secara legitimit , namun Alhamdulillah kegiatan pengajaran dan amaliah pesantren terus bisa berlanjut dengan masih jalannya pengajian santri dengan berperannya juga sesepuh antara lain KH. Asmu'i Hasyim
6. Masa Periode Generasi ke Tujuh (7) Masa Kebangkitan Pondok Pesanteren Al-Hamdaniah Siwalanpanji
Setelah selesainya permasalahan perselisihan keluarga tersebut sebagai Pasang surut lembaga yang terjadi dalam sebuah kepemimpinan membuat para pengasuh sadar, tahu diri, intropeksi . dan menjadikan periode sebelumnya sebuah ibrah (pelajaran) sehingga para pengasuh dapat menjauhi hal– hal yang tidak diinginkan dan dapat menurunkan semangat para pengasuh dalam mengembangkan pesantren menjadi lebih baik. masa selanjutnya yang bisa dikatakan sebagai masa kebangkitan kembali Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah .
Pada tahun 80 an masa ini masyayikh/Pengasuh di Pesantren Al-Hamdaniyah dilanjutkan oleh KH. Abdurrohim bin KH. Rifa'i , KH. Mastur Shomad (Menantu Kyai Abdulloh Siddiq ), dan KH. Asyari bin Asmu’i , pada masa ini pengasuh mulai bersatu dalam menyamakan visi dan misi serta melakukan pembenahan–pembenahan yang dibutuhkan. Hal ini terbukti dengan adanya pembangunan Madrasah Aliyah (MA),pembangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI), renovasi Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan pembangunan gedung lainnya.